Sunday, January 29, 2023

105 Tahun ‘Aisyiyah: Muktamar di Tengah Tantangan Global

Kurniawati Hastuti Dewi

Muktamar ‘Aisyiyah ke-48, yang berbarengan dengan Muktamar Muhammadiyah, baru saja selesai digelar di Surakarta, 18-20 November 2022. Muktamar ini sekaligus menandai ‘Aisyiyah sebagai organisasi sayap perempuan Muhammadiyah telah berumur 105 tahun. Pada Muktamar di abad kedua ini, ‘Aisyiyah menunjukkan kesigapan merespons tantangan global.  Sebagai contoh, keniscayaan revolusi industri 5.0 dengan konektivitas erat manusia, mesin, dan data atau Internet of Things (IoT), direspons dengan penggunaan e-voting dalam rangkaian pemilihan pimpinan pusat ‘Aisyiyah.

Sebagai peninjau yang mengamati jalannya Muktamar ‘Asiyiyah selama 3 hari, saya menyaksikan ribuan ibu-ibu pengurus ‘Aisyiyah dari Aceh sampai Papua menunjukkan antusiasmenya dan tertib menggunakan perangkat elektronik e-voting. Perangkat tersebut telah disematkan di belakang nametag mereka untuk di-tap di layar komputer yang memunculkan 39 nama calon pimpinan pusat ‘Aisyiyah untuk dipilih. Meskipun beberapa sudah nampak berumur, namun tidak terlihat adanya kecanggungan melakukan sistem e-voting yang terjamin cepat dan transparan. Terobosan ini menjadi tanda bahwa ‘Aisyiyah sebagai salah satu organisasi perempuan Islam terbesar di Indonesia, sudah bersiap diri menghadapi berbagai tantangan global. 

Selain soal e-voting, Muktamar ‘Aisyiyah ke-48 juga menghasilkan “Risalah Perempuan Berkemajuan”. Muktamar ini juga menyepakati “Isu-Isu Strategis Keumatan, Kebangsaan dan Kemanusiaan Universal”. Lalu bagaimana melihat dua dokumen yang dihasilkan Muktamar ‘Aisyiyah ke-48 tersebut?

“Risalah Perempuan Berkemajuan”

‘Aisyiyah dan Muhammadiyah telah menerbitkan berbagai buku tuntunan yang menjadi panduan dan acuan para perempuan Muslim pengikutnya. Sebagai contoh, Tuntunan Menjadi Isteri Islam Yang Berarti diterbitkan pada tahun 1937 berisi 12 hal penting yang harus diperhatikan bagi perempuan ‘Aisyiyah. Pada tahun 1982 terdapat Adabul Mar’ah Fil Islam yang membahas hak dan kewajiban perempuan di sembilan area. Dalam konteks politik tahun 1982 yang masih di bawah Orde Baru, Adabul Mar’ah Fil Islam sangat progresif karena memperbolehkan perempuan menjadi hakim, dan mendorong kiprah perempuan dalam politik. Adabul Mar’ah Fil Islam menjadi landasan ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah memperbolehkan kepemimpinan perempuan di ruang publik sebagai gubernur/bupati/walikota/kepala desa/dan seterusnya (Dewi 2008).

Pada tahun 1989 diterbitkan buku Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah. Dengan memperhatikan diskursus kesetaraan gender dan perubahan dinamika keluarga, buku tersebut mengalami proses revisi sejak tahun 2005. Edisi revisi buku Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah telah diterbitkan pada tahun 2016. Beberapa hal baru dalam revisi buku Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah diantaranya: meneguhkan prinsip monogami sebagai bagian karakter “perempuan berkemajuan” (2017, vii), merespons perkembangan perubahan sistem keluarga patriarki menjadi sistem keluarga demokratis di mana hubungan suami-istri setara saling melengkapi (2017, 12), menegaskan hubungan kesetaraan yang menghindarkan sikap sub-ordinatif, eksploitatif, dan tindak kekerasan terhadap orang lain di dalam keluarga (2017, 30). Edisi revisi buku Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah nampak responsif dengan perubahan dinamika di dalam keluarga modern di mana istri dan suami bekerja, serta penekanan spirit saling melengkapi dan mendukung satu sama lain.

“Perempuan berkemajuan” menjadi visi gerakan ‘Aisyiyah di abad ke-2. Sebagai rangkaiannya, Muktamar ‘Aisyiyah ke-48 di Surakarta menghasilkan Risalah Perempuan Berkemajuan, yang disahkan pada Pleno VI pada Ahad, 20 November 2022. Risalah Perempuan Berkemajuan merupakan “rujukan yang memuat paham Islam berkemajuan yang berwawasan wasatiyah (moderat, tengahan) tentang perempuan dalam gagasan, pemikiran, dan aksi gerakan (Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah 2022, 7). Risalah Perempuan Berkemajuan menyebutkan tujuh karakter perempuan berkemajuan: 1) imam dan takwa, 2) taat beribadah, 3) akhlak karimah, 4) berfikit tajdid, 5) bersikap Wasatiyah, 6) amaliah salihah, 7) sikap inklusif (Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah 2022, 17-31).  Jika dicermati, tujuh karakter perempuan berkemajuan itu hendak mewujudkan sosok perempuan dengan ideologi gerakan Muhammadiyah, kuat secara tauhid, senantiasa mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dinamis, kreatif, mampu bersikap inklusif dan terbuka dengan siapapun dalam relasi sosial yang majemuk di tengah keberagaman agama, suku, ras, golongan di Indonesia dan dunia.   

Isu Strategis: Pemilu 2024, Tantangan Dakwah Digital dan Perubahan Iklim

Hal yang juga sangat menarik adalah disahkannya “Isu-isu Strategis Keummatan, Kemasyarakatan, Kebangsaan, dan Kemanusiaan Semesta” (Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah 2022), pada Pleno VII, Ahad 20 November 2022. Terdapat sepuluh isu-isu strategis yang menjadi perhatian dan fokus gerakan ‘Aisyiyah selama lima tahun ke depan (2022-2027): 1) penguatan peran strategis umat Islam dalam mencerahkan bangsa, 2) penguatan perdamaian dan persatuan bangsa, 3) pemilihan umum yang berkeadaban menuju demokrasi substantif, 4) optimalisasi pemanfaatan digital untuk atasi kesenjangan dan dakwah berkemajuan, 5) penguatan literasi nasional, 6) ketahanan keluarga basis kemajuan peradaban bangsa dan kemanusiaan semesta, 7) penguatan kedaulatan pangan untuk pemerataan akses ekonomi, 8) penguatan mitigasi bencana dan dampak perubahan iklim untuk perempuan dan anak, 9) peningkatan akses perlindungan bagi pekerja informal, 10) penurunan angka stunting. Sepuluh isu ini sangat relevan dan strategis diangkat untuk menjadi fokus gerakan ‘Aisyiyah ke depan. Namun, tiga isu di bawah ini, penting untuk mendapat perhatian serius.

Pertama, soal pemilihan umum. Dua tahun lagi, tepatnya 14 Februari 2024 pemungutan suara pada Pemilu 2024 akan dilakukan. Salah satu hal penting yang selalu muncul dalam pemilu adalah mengenai upaya peningkatan keterwakilan perempuan di parlemen. Norris dan Lovenduski (1995) dalam studi meningkatkan keterwakilan perempuan di parlemen memperkenalkan “demand” dan “supply” model. Dalam konteks ini, ormas perempuan termasuk ‘Aisyiyah memiliki peran di sisi “supply” dengan mendorong dan menyediakan sumber daya manusia berupa perempuan potensial untuk bersaing dalam politik elektoral.

Hasil survei online nasional terhadap 64 ornop perempuan di 23 provinsi di seluruh Indonesia (disebarkan kepada ketua/wakil ketua/sekretaris ornop perempuan, termasuk kepada Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah) pada 20-31 Mei 2022, oleh Tim Gender dan Politik BRIN menunjukkan hal yang mengejutkan:  57,81% ornop perempuan tidak mempersiapkan perempuan pengurus organisasinya untuk ikut menjadi bakal calon legislatif tingkat kabupaten/kota/provinsi/nasional menghadapi Pemilu 2024. Sebanyak 51,56% ornop perempuan tidak mempersiapkan perempuan anggota organisasi-nya untuk ikut menjadi bakal calon legislatif tingkat kabupaten/kota/ provinsi/nasional menghadapi Pemilu 2024 (Newsletter Gender dan Politik BRIN, Vol 3, No. 1, 2022). Berkaca dari hal ini, maka ‘Aisyiyah sebagai salah satu ormas perempuan Islam terbesar dengan jejaring sangat luas dari pusat sampai dengan tingkat kecamatan, mesti bersiap menyediakan sumber daya manusia perempuan baik sebagai bakal calon legislatif untuk berkompetisi mendapatkan kursi di DPRD lokal/nasional, ataupun sebagai penyelanggara Pemilu. Pekerjaan rumahnya adalah bagaimana menyiapkan kader-kader terbaiknya dengan mentoring, keterampilan untuk berkampanye dan menciptakan pemilu berkeadaban. ‘Aisyiyah harus bergerak menyiapkan para kader perempuan potensial dibekali dengan kemampuan beradaptasi di era digital. Mengapa demikian? Menurut survei Litbang Kompas pada Oktober 2021, setidaknya 31,2 persen anak muda (generasi Y dan Z) akan menjadi pemilih potensial pada Pemilu 2024 (Kompas, 20 Oktober 2021). Anak anak muda ini memiliki perilaku tinggi engagement dengan digital teknologi. Maka, kemampuan adaptasi terhadap teknologi kampanye digital menjadi salah satu hal yang harus disiapkan pada Pemilu 2024. 

Kedua, respons tantangan dakwah digital. Meskipun ‘Aisyiyah sudah memiliki banyak platform digital baik di Instagram, Facebook, maupun Youtube, perlu terus dilakukan evaluasi sejauhmana engagement antara para mubalighat ‘Aisyiyah dengan para pengikutnya ataupun dengan kalangan Muslim pada umumnya. Harus diperhatikan juga pengemasan pesan yang disampaikan para mubalighat agar lebih popular. Tidak ada salahnya juga memberikan kesempatan pada jajaran mublighat muda ‘Aisyiyah untuk mengisi berbagai platform digital itu. Salah satu contohnya adalah secara bergiliran para mubalighat muda dari Aceh sampai Papua  membahas berbagai isu aktual di sekelilingnya. Teknologi memungkinkan materi dakwah menjangkau berbagai segmen kaum muda, tidak hanya kalangan perempuan ‘Aisyiyah yang sudah berumur.  

Ketiga, perhatian terhadap masalah perubahan iklim dan dampaknya bagi perempuan. Perubahan iklim adalah salah satu ancaman abad ke-21 yang paling menantang di era Antroposen. Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim merupakan salah satu hasil dari 52 deklarasi para pemimpin G20 di Bali, 15-16 November 2022 (G20 Bali Leaders’ Declaration). Menariknya lagi, sebagaimana dicatat para akademisi seperti MacGregor (2010) bahwa perubahan iklim tidak netral gender, karena laki-laki dan perempuan akan mengalami dampak perubahan iklim secara berbeda di mana perempuan akan lebih banyak dirugikan dibandingkan laki-laki. Namun demikian mesti diingat bahwa istilah ‘perubaham iklim’, mungkin asing bagi perempuan akar rumput. ‘Aisyiyah mesti jeli melihat realita di lapangan karena seringkali justru perempuan akar rumput sudah mempraktikan mitigasi perubahan iklim, tetapi mereka tidak menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah hal yang luar biasa. Jadi, alih-alih mengajarkan sebuah strategi mitigasi pada perempuan akar rumput, lebih baik mempelajari dan memahami lebih dahulu konteks masalah dan praktik yang selama ini sudah berkembang dan kemudian dapat didorong oleh ‘Aisyiyah.

Setidaknya melalui tiga isu strategis ini, ‘Aisyiyah telah menunjukkan respons cepat dan adaptif terhadap tantangan global berupa tantangan Pemilu 2024 yang berada di era transformasi 5.0, berdekatan dengan respons adaptif terhadap tantangan dakwah digital, dan tidak kalah penting posisi pemihakan terhadap perubahan iklim dan dampaknya terhadap perempuan dan anak. ‘Aisyiyah di usianya yang ke-105 sudah berkontribusi besar terhadap bangsa Indonesia dengan membangun 20.233 TK, PAUD, Kelompok Bermain, 18 Rumah Sakit Umum ‘Aisyiyah tersebar di 6 wilayah (Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Kalimantan Timur), dan 45 klinik di 15 Provinsi (Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah” 2022). Kini di tengah tantangan global di abad kedua, pekerjaaan rumahnya adalah mengimplementasikan gerak organisasi ‘Aisyiyah yang sangat besar dari pusat, wilayah, daerah, cabang, dan ranting, agar isu-isu strategis tersebut benar-benar dapat diatasi di lapangan. Semoga!

(Kurniawati Hastuti Dewi, peneliti senior Pusat Riset Politik BRIN dengan kepakaran gender dan politik. Melakukan riset berkelanjutan tentang ‘Aisyiyah sejak tahun 2006).

Referensi

Dewi, Kurniawati Hastuti. “Perspective versus Practice: Women’s Leadership in Muhammadiyah.” SOJOURN: Journal of Social Issues in Southeast Asia, Vol. 23, No. 2 (2008): 161- 85.

G20 Bali Leaders’ Declaration. https://www.whitehouse.gov/briefing-room/statements-releases/2022/11/16/g20-bali-leaders-declaration/ (akses 21 November 2022).

Kompas, 20 Oktober 2021. “Tranformasi Parpol Mendesak untuk Respons Generasi Milenial”.  https://www.kompas.id/baca/polhuk/2021/10/20/transformasi-parpol-mendesak-untuk-respons-generasi-milenial (akses 11 November 2021).

MacGregor, S. “Gender and climate change: from impacts to discourses”, Journal of the Indian Ocean Region Vol. 6, No.2 (2010): 223-238. 

Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Direktori Amal Usaha Kesehatan ‘Aisyiyah. Jakarta: Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, 2022.

Newsletter Gender dan Politik BRIN Vol. 3, No. 1 (2022). https://politik.brin.go.id/wp-content/uploads/2022/10/Newsletter-Gender-dan-Politik-Volume-3-No.-1-Tahun-2022.pdf (diakses 21 November 2022). 

Norris, P., and Lovenduski, J. Political recruitment: Gender, race, and class in the British parliament. Cambridge University Press, Great Britain: 1995.

Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Isu-Isu Strategis Keumatan, Kebangsaan, dan Kemanusiaan Universal. Disampaikan pada Muktamar ‘Aisyiyah ke-48 Surakarta, 18-20 November 2022.

Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Risalah Perempuan Berkemajuan. Disampaikan pada Muktamar ‘Aisyiyah ke-48 Surakarta, 18-20 November 2022.

Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah. Yogyakarta: Pimpinan Pusat Aisyiyah and Majelis Tarjih dan Tadjid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2017 (cetakan kedua).

Populer