Friday, August 12, 2022

Pemindahan Ibu Kota Negara Dalam Perspektif Transisi Energi dan Ketahanan Energi

Renaldy Bernardo Saragih

Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia – BRIN

Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) sudah resmi dimulai, ditandai dengan disahkannya UU Ibu Kota Negara No. 3 Tahun 2022. Sontak seantero negeri menggemakan pemindahan ibu kota negara ini, bahkan hingga menarik perhatian dunia internasional. Pemindahan ibu kota negara ini juga secara otomatis dan pragmatis langsung mengubah hitung-hitungan negara pada aspek kependudukan, komoditi, ekonomi, sosial-budaya, dan tak luput energi dan sumber daya alam.

Menarik jika membahas proyeksi pembangunan ketahanan energi dan cara pemenuhan energi di IKN baru ini. Menurut Hughes, energi diperlukan untuk menggerakkan berbagai aktivitas, baik alami maupun buatan. Energi menjadi salah satu penentu keberlangsungan hidup suatu masyarakat dalam kemampuannya menjaga berbagai proses ekologis, menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi, dan secara umum meningkatkan kualitas hidup (Hughes, 2000:97). Keberlangsungan tingkat dan kualitas aktivitas sangat tergantung pada ketersediaan dan konsumsi energi (Budiarto,2011:1). Pemenuhan energi di IKN baru hingga seluruh Kalimantan, jika ditinjau dari jenis energinya, harus diperhatikan secara serius. Menurut Rosyid Hariyadi, Ketua Nasional Pola Pembangunan Berwawasan Lingkungan, pembangunan diarahkan pada terwujudnya kelestarian fungsi lingkungan hidup dalam keseimbangan dan keserasian yang dinamis dengan perkembangan kependudukan, agar dapat menjamin pembangunan nasional yang berkelanjutan. Pakar lingkungan, Otto Soemarwoto, juga menyarankan pentingnya pertimbangan daya dukung dalam pembangunan nasional. Untuk itu, diperlukan penegakan hukum dan peraturan perundang-undangan (Komarudin,1999:85) guna mewujudkan pembangunan nasional yang berkelanjutan ini.

Jenis energi ditinjau dari keberlanjutannya dibagi menjadi dua jenis, yaitu energi baru terbarukan (EBT) dan Non-EBT. Rachmawan Budiarto dalam bukunya Kebijakan Energi Menuju Sistem Energi yang Berkelanjutan menyebut bahwa energi baru terbarukan adalah berbagai sumber energi yang secara alami akan tersedia secara berkelanjutan (seperti matahari, angin, panas bumi, dan air) atau tersedia secara berkelanjutan melalui suatu usaha tertentu (berbagai sumber biomass). Sementara, energi non-terbarukan seperti energi fosil adalah energi yang tidak berkelanjutan dan dapat habis (Budiarto, 2011:117).

Penyediaan energi khususnya pada IKN baru haruslah meninjau bukan hanya aspek pemenuhan seperti kehandalan (reliability), keterjangkauan (affordability),  dan akses (accessibility) saja, tetapi juga harus meninjau kebersihan energi (cleanliness), keberlanjutan (continuity), dan efisiensi (efficiency). Bagi IKN baru yang digadang-gadang bakal menjadi smart city dan ramah lingkungan di tengah hutan Kalimantan, rasa-rasanya tidak layak menggunakan energi yang kotor dan beremisi tinggi. Oleh karena itu, energi bersih yaitu energi terbarukan harus menjadi mutlak diaplikasikan tanpa tawar-menawar lagi. Penggunaan energi bersih memberikan efek domino, mulai dari pemenuhan energi, meningkatkan kualitas penduduk, meningkatkan efisiensi pemenuhan energi, meningkatkan reputasi bangsa, meningkatkan perdagangan dan ekonomi, hingga stabilnya harga baku industri dan output-nya.

Jika kita berkaca pada keadaan dan posisi penggunaan energi khususnya di Kalimantan saat ini, berada pada kategori masih tergantung pada energi fosil dan non-terbarukan, walaupun pembangunan pembangkit listrik berbasis EBT sudah digalakkan.


Gambar 1. Penggunaan Energi Listrik Wilayah Kalimantan (GWh) (Sumber: PLN, 2020)

Dari tabel tersebut diketahui bahwa komposisi energi fosil masih sangat mendominasi dengan capaian EBT sejauh ini masih sekitar 1/10-2/10 total keseluruhan, bahkan secara nasional masih berada di angka 12%, dengan proyeksi tahun 2025 ketika IKN mulai beroperasi komposisi batu bara masih cukup tinggi, yaitu sekitar 62%, EBT dan energi lainnya sekitar 35-38 % (PLN, 2020). Data konsumsi listrik pada wilayah IKN itu sendiri yaitu Kalimantan Timur juga cukup menarik dibahas dengan komposisi yang tidak jauh beda.

Gambar 2. Penggunaan Energi Listrik Wilayah Kalimantan Timur (GWh) (sumber:PLN)

Proyeksi konsumsi listrik di Kalimantan Timur berada pada angka yang cukup tinggi dengan pertumbuhan konsumsi berada pada posisi 4-15%.

Gambar 3. Proyeksi Konsumsi Energi Listrik Wilayah Kalimantan Timur (GWh) (Sumber:PLN)

Proyeksi tersebut diklaim oleh PLN sudah memperhitungkan pembangunan kawasan industri dan IKN, dengan proyeksi alokasi energi listrik IKN sekitar 800 MW yang dipenuhi secara bertahap oleh PLN. Artinya, jika kita berangkat dari tahun 2020 hingga nanti IKN mulai beroperasi, maka pemerintah wajib membangun pembangkit listrik berkapasitas 800 MVA dengan komposisi energi listrik yang juga harus diperhatikan.

Gambar 4. Proyeksi Komposisi Energi Listrik Kalimantan (GWh)

Jika kita mencermati data tersebut hingga 2024, penggunaan batu bara masih mencakup 2/3 dari penggunaan listrik di Kalimantan, atau sekitar 66%. Artinya, ketergantungan wilayah Kalimantan secara keseluruhan  dalam jangka waktu dekat pada energi fosil masih sangat besar dari ideal penggunaan energi fosil 50%, bahkan hingga IKN baru berjalan. Namun, jika melihat proyeksi 2030, wilayah Kalimantan sudah berada pada titik yang cukup ideal untuk penggunaan energi fosil, yaitu sekitar 50% dari jumlah konsumsi keseluruhan, walaupun ada peningkatan dari sisi kuantitas 4 TWh yang diharapkan dapat menurun kembali hingga tahun 2045 ketika IKN sudah rampung secara keseluruhan. Proyeksi meningkatnya jumlah penduduk seiring berpindahnya IKN ke Kalimantan juga ikut andil dalam peningkatan penggunaan energi. Secara kuantitas berdasarkan tabel proyeksi di atas, akan identik dengan peningkatan. Ini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam penyediaan energi dan koneksi penyaluran listrik serta rantai pasok pemenuhan energi.

Jika merujuk pada Buku Saku Pemindahan IKN (Bappenas), salah satu frasa yang dimunculkan adalah bahwa IKN dikembangkan dengan 100% clean energy. Proyeksi penggunaan energi seperti yang tertulis di atas sebesar lebih kurang 800 MVA atau sekitar 800 MW pada tahun 2024 (Kementerian ESDM), rencananya akan disiapkan secara bertahap oleh PLN. Sehingga, otomatis akan ada tambahan 800 MVA energi bersih untuk total keseluruhan Kalimantan Timur hingga nasional. Ini merupakan kabar baik jika dibandingkan dengan pusat pemerintahan saat ini, yaitu Jakarta yang beberapa waktu lalu dinobatkan sebagai salah satu kota paling tercemar di Asia bahkan dunia.

Setelah kebutuhan listrik yang diproyeksi mengalami peningkatan 300-900 GWh/tahun, tentu yang mesti disorot adalah bagaimana potensi energi di Kalimantan khususnya IKN. Kalimantan memiliki cadangan bahan bakar fosil yang kaya termasuk minyak bumi, gas bumi, dan batubara, serta cadangan bahan bakar fosil non-konvensional, seperti coal bed methane dan oil-gas shale yang belum dieksploitasi. Cadangan tersebut tersebar tidak merata, dengan Kalimantan Timur memiliki jumlah terbanyak. Namun, Kalimantan Barat hampir tidak memiliki potensi energi fosil seperti yang dimiliki provinsi lainnya (Nugroho, 2020: 34). Kilang minyak Balikpapan (kapasitas pengolahan 260.000 barel per hari) adalah kilang minyak kedua terbesar di Indonesia, setelah kilang Cilacap di Jawa Tengah. Kapasitas LNG Plant Badak di Bontang-Kaltim masih termasuk besar di dunia (8 trains, kapasitas pengolahan 22.5 MTPA/million ton per annum) Kalimantan merupakan pulau pengekspor LNG besar di dunia (Nugroho, 2020: 36) dan sumber daya batu bara 88,31 miliar ton dengan cadangan sebesar 25,84 miliar ton atau setara 62% cadangan nasional. Cadangan ini diperkirakan akan mampu menyediakan sumber listrik nasional selama 39 Tahun dengan cadangan EBT yang sangat besar mulai dari tenaga air, surya, angin, dan panas bumi.

Kalimantan Timur sendiri sebagai basis pembangunan IKN memiliki sangat banyak potensi energi, yaitu batu bara sebagai salah satu yang terbesar bahkan sebagai lumbung energi nasional beserta migasnya. Di samping itu, terdapat potensi Uranium, cadangan gas bumi mencapai 46 TSCF dengan produksi 2 TSCF per tahun, termasuk perkiraan sisa cadangan Blok Mahakam sebesar 5,7 TSCF. Cadangan minyak bumi di Kalimantan Timur sebesar 985 MMSTB dan produksinya mencapai 57 MMSTB per tahun. Potensi gas metana batubara (CBM) sebesar 108 TSCF. Sementara, potensi gas bumi di Bontang untuk pembangkit wellhead dengan kapasitas 40 MW. Potensi ini dapat dikembangkan apabila terdapat demand. Potensi air mencapai 830 MW, bioenergi mencapai 48 MW, dan potensi energi surya di Kalimantan Timur sebesar 0.7 MW (Data: RUPTL PLN). Sehingga, kebutuhan 800 MW bagi IKN di tahun 2024 dengan target 100% EBT dapat dicapai, bahkan hanya dengan memanfaatkan potensi energi berbasis  tenaga air.

Dari aspek ketahanan energi, khususnya energi baru terbarukan, IKN dalam posisi yang kuat dan cukup. Namun, perlu diperhatikan dan dipantau secara berkala aspek efisiensi dan tingkat emisi energi sebagai upaya pencegahan kerusakan lingkungan dan alam Kalimantan. Selain itu, perlu juga dilakukan studi berkala secara terus-menerus perihal potensi energi baik yang sudah dieksplorasi maupun yang belum. Ini penting untuk memberi garansi pemenuhan energi di IKN dan Kalimantan bahkan Indonesia secara utuh, karena penyediaan energi yang mencukupi barang tentu akan menekan harga output listrik baik ke sektor perumahan, transportasi, dan komersil.

Faktor distribusi juga menjadi faktor kunci efisiensi dan efektivitas penyediaan energi. Untuk itu, distribusi energi di Kalimantan harus terkoneksi satu sama lain dalan memperkuat ketahanan energi. Suhadi dalam bukunya menyebut bahwa fungsi distribusi tenaga listrik adalah pembagian atau penyaluran tenaga listrik ke beberapa tempat (pelanggan), dan merupakan sub-sistem tenaga listrik yang langsung berhubungan dengan pelanggan, mengingat catu daya pada pusat-pusat beban (pelanggan) dilayani langsung melalui jaringan distribusi (Suhadi, dkk,2008:11). Untuk saat ini, Kalimantan memiliki jaringan distribusi yang masih belum terkoneksi antar-provinsi.           

Gambar 5. Peta Sistem distribusi Listrik Pulau Kalimantan (Sumber:RPTUL PLN)

Dari gambar peta distribusi listrik di atas, kita dapat melihat bahwa koneksi listrik antar-provinsi belum berjalan baik, dengan koneksi terbanyak dimiliki oleh Kalimantan Timur. Hal ini tentu harus segera menjadi perhatian pemerintah menimbang bahwa kebutuhan energi listrik Kalimantan akan naik signifikan akibat perpindahan penduduk sebagai efek berpindahnya pusat pemerintahan ke Kalimantan. Infrastruktur listrik seperti gardu listrik mesti segera dibangun dan ditambah sebarannya demi memperkuat ketahanan energi Kalimantan itu sendiri.

Rencana penggunaan EBT 100%  di IKN baru perlu disambut baik. Namun juga perlu diperhatikan bagaimana potensi energinya demi memenuhi ketahanan energi bagi ibu kota baru dan Indonesia. Pemindahan IKN ke Kalimantan menjadi momentum Indonesia untuk mengubah wajahnya dan menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia serius dalam upaya transisi energi dari energi ber-emisi tinggi yang selama ini merusak alam dan menurunkan kualitas hidup, ke energi hijau terbarukan yang akan membawa arah baru peradaban manusia menjadi lebih baik demi keberlangsungan generasi yang akan datang.

Referensi

Buku

Hughes, Getting More From Less-A Review Of Progress On Energy Efficiency and     Renewable Energy Initiatives In New Zealand, Parliamentary Commissioner For The Environment, Wellington, 2000

Budiarto, R., Kebijakan Energi Menuju Sistem Energi Yang Berkelanjutan, Samudra Biru,   Yogyakarta, 2011

Mason, N., dan Hughes, P., Introduction To Environmental Physics, Taylor & Francis, London, 2001

Komarudin, Pembangunan Perkotaan Berwawasan Lingkungan, Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta, 1999

IESR, Laporan Status Energi Bersih Indonesia, IESR, Jakarta, 2019

Suhadi, dkk., Teknik Distribusi Tenaga Listrik, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Jakarta, 2000

Bappenas, Buku Saku Pemindahan IKN, Bappenas, Jakarta, 2022

Jurnal

Nugroho, H., “Pemindahan Ibu Kota Baru Negara Kesatuan Republik Indonesia ke Kalimantan Timur: Strategi Pemenuhan Kebutuhan dan Konsumsi Energi. Jurnal Bappenas Working, Vol III, no. 1, hal 36-40, 2020

Internet

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20191127122308-85-451935/esdm-sebut-listrik-ibu-kota-baru-kurang-864-mw-pada-2024

https://www.dunia-energi.com/daya-mampu-pasokan-listrik-nasional-saat-lebaran-mencapai-41-55991-mw/

https://www.google.com/amp/s/www.cnbcindonesia.com/news/20220207174128-4-313549/catat-2024-listrik-antar-pulau-di-ri-bakal-tersambung/amp

Populer