Sunday, January 29, 2023

“Standard China 2035” dan Mimpi Tiongkok untuk Standardisasi Teknologi Dunia

Muhammad Rizki Akbar

Universitas Sebelas Maret

Pada akhir tahun 2020, World Intellectual Property Organization (WIPO) merilis laporan pengajuan paten selama satu tahun. Dalam laporan tersebut diketahui bahwa Tiongkok mengajukan sekitar 68.720 paten dan kekayaan intelektual. Hasil ini lebih banyak dari paten yang diajukan oleh Amerika Serikat pada tahun yang sama (Farge, 2021). Tak ingin merasa kehilangan momentum, pada Oktober 2021 Dewan Negara Tiongkok merilis strategi nasional untuk standardisasi teknis dan teknologi sebagai bentuk realisasi dari rencana “Standard China 2035” (The State Council of the People’s Republic of China, 2021). Dokumen ini memberikan spesifikasi teknis yang dapat digunakan sebagai standar oleh produsen dalam menghasilkan produk, layanan, serta proses produksi yang lebih efisien. Standar ini akan diaplikasikan secara meluas kepada seluruh produsen dengan tujuan membentuk interoperabilitas antar-perangkat yang dibuat oleh produsen dari berbagai perusahaan di berbagai negara. Tujuannya adalah agar perangkat yang dihasilkan oleh produsen-produsen tersebut dapat beroperasi dengan lebih baik. Selain itu, standar ini juga akan membantu konsumen dalam penggunaan produk dan layanan, serta memberikan keyakinan akan keamanan dan kinerja produk tersebut. Strategi standardisasi Tiongkok ini juga akan mengedepankan keterbukaan yang berorientasi pada perkembangan teknologi melalui kerja sama produsen domestik dan internasional” (The State Council of the People’s Republic of China, 2021).

Kemunculan dokumen mengenai standardisasi teknologi di Tiongkok ini bukan merupakan tindakan mendadak yang tak beralasan. Sejak tahun 2010 Tiongkok menurunkan posisi Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Pada waktu yang bersamaan, Tiongkok juga secara besar-besaran mempercepat perkembangan teknologi serta industri domestik yang menghasilkan produk-produk seperti 5G, Artificial Intelligence (AI), panel surya dan mobil listrik. Hal ini memberikan isyarat bahwa Tiongkok mengambil langkah serius dalam pengembangan teknologi. Bagaimanapun juga, percepatan industri secara masif yang dilakukan oleh Tiongkok perlu ditopang oleh standardisasi teknologi yang penting untuk memajukan industrinya. Upaya ini juga didukung oleh inisiatif “Made in China 2025” yang mencoba mengubah citra negara Tiongkok sebagai pabrik dunia yang memproduksi barang-barang murah menjadi “technological powerhouse” yang mampu berperan sebagai pemimpin dalam kemajuan teknologi dunia” (The State Council of the People’s Republic of China, 2015).

Rencana Tiongkok ini memberi jalan bagi “Standard China 2035” untuk menunjukkan bahwa industri dan infrastruktur yang dimiliki oleh Tiongkok dapat disandingkan dengan teknologi dari negara maju lainnya. Dalam beberapa waktu ini, masih banyak negara yang bergantung pada industri Tiongkok, diperlihatkan dengan banyaknya jumlah impor panel surya produksi Tiongkok oleh negara-negara barat, seperti Amerika Serikat (Sun, 2020). Negara-negara di Uni Eropa dan Amerika Serikat melihat perkembangan ini sebagai bentuk meningkatnya pengaruh Tiongkok dalam bidang teknologi.

Perkembangan teknologi dan industri yang semakin cepat, ditambah dengan tuntutan pasar internasional membuat standardisasi menjadi sangat penting bagi Tiongkok. Hal ini tentu membutuhkan dorongan besar dari berbagai pihak, seperti produsen dan pemerintah. Beijing secara terus-menerus mendukung perkembangan industri domestiknya, salah satunya melalui dokumen 14th Five Years Plan yang merupakan perencanaan lima tahunan Tiongkok untuk mengembangkan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat secara berkelanjutan. Dalam dokumen tersebut, Research and Development (R&D) menjadi fokus utama dalam pengembangan inovasi teknologi Tiongkok. Tiongkok setiap tahun terus menambah pengeluarannya dalam bidang penelitian dan pengembangan sebagaimana terlihat pada Tabel 1.1. Dalam dokumen 14th Five Years Plan dipaparkan rencana Tiongkok untuk meningkatkan pengeluaran R&D setiap tahun sebesar 7%, dengan proporsi untuk penelitian dasar meningkat dari 6% menjadi lebih dari 8%, dan membantu pengembangan aplikasi dunia nyata dengan membina hubungan yang lebih erat antara bisnis, industri, dan akademisi. Sektor bisnis juga akan didorong untuk berinvestasi dalam R&D melalui insentif pajak (The General Office of Fujian Provincial People’s Government, 2021) (Lee, 2021).

Tabel 1.1 Pengeluaran Bidang Penelitian dan Pengembangan

Tiongkok bukan merupakan negara dengan pengeluaran terbesar dalam R&D di kawasan Asia Timur, karena pengeluarannya masih berada di bawah Jepang dan Korea Selatan (OECD, 2022). Namun, perkembangan yang cukup drastis dalam R&D ditunjukkan oleh Tiongkok dengan angka yang terus mendekati Amerika Serikat. Hal ini memperlihatkan adanya pergerakan Tiongkok dalam pengembangan teknologi yang lebih maju dan keinginan besarnya untuk meninggalkan citra negara yang lama.

Selain jumlah anggaran R&D yang besar, perkembangan teknologi Tiongkok juga didukung oleh kolaborasi berbagai pelaku industri. Peran para pelaku industri Tiongkok yang semakin besar dalam pasar teknologi ini merupakan hasil dari besarnya fungsi Partai Komunis Tiongkok dalam menegaskan kontrol terhadap perusahaan-perusahaan yang berbasis di Tiongkok, khususnya perusahaan-perusahaan teknologi. Dalam konteks itu, ruang yang lebih besar bagi pelaku industri ini bukan merupakan bentuk pergeseran dari peran negara, tetapi perlu dilihat sebagai cara Tiongkok untuk memperkuat kemampuan sistem standar yang berpusat pada negara.

Rencana serta langkah-langkah yang telah diambil oleh Beijing tidak hanya didasarkan pada tujuan untuk memajukan industri di Tiongkok. Dokumen Garis Besar Pengembangan Standardisasi Nasional Tiongkok (国家标准化发展纲要) yang dirilis pada Oktober 2021 menjelaskan rancangan strategis komprehensif yang berisi rencana pengembangan industri Tiongkok, serta landasan ideologis dan keinginannya untuk membangkitkan “Mimpi Tiongkok” demi mengembalikan kejayaan negara (The State Council of the People’s Republic of China, 2021). Sejarah panjang kekalahan Tiongkok dalam perang opium merupakan dasar motivasi Tiongkok untuk kembali bangkit menjadi kekuatan ekonomi besar seperti pada masa pra-kolonialisme, salah satunya dengan cara mengembangkan industri teknologinya.

Di satu sisi, pandangan Tiongkok bahwa saat ini teknologi dan standar paten masih didominasi oleh negara Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat menjadi faktor lain yang mendorong dibentuknya standardisasi teknologi Tiongkok. Tiongkok melihat bahwa dominasi ini adalah bentuk dari hegemoni negara Barat, khususnya Amerika Serikat. Tiongkok menginginkan adanya keterbukaan dalam standardisasi teknologi dunia. Presiden Xi Jinping dalam suatu kesempatan dengan tegas menyatakan bahwa aturan global tidak dapat dipaksakan oleh “satu atau beberapa negara” (Farge, 2021). Kurangnya peran negara-negara Asia dalam menciptakan inovasi teknologi dan standardisasi teknologi menjadi perhatian utama karena pada dasarnya teknologi-teknologi yang ada saat ini dibuat di negara-negara Asia.

Di sisi lain, perang dagang dan perlombaan teknologi yang terjadi antara Tiongkok dan Amerika Serikat juga memengaruhi kebijakan Tiongkok dalam penetapan strategi standardisasi nasionalnya. Masuknya beberapa perusahaan strategis Tiongkok dalam entity list AS sempat menghambat perkembangan serta penjualan produk Tiongkok, khususnya teknologi semikonduktor dan 5G (Trivedi, 2020). Hal ini memicu tantangan domestik yang membuat Tiongkok perlu memproduksi teknologi seperti chip semikonduktor, chip panel layar, dan beberapa teknologi lain secara domestik. Dengan adanya standar baru yang ditetapkan oleh Tiongkok, perusahaan dalam negeri dan perusahaan luar negeri yang ada di Tiongkok perlu beradaptasi kembali dengan ketentuan baru yang dijadikan standar secara nasional oleh Tiongkok.

Tiongkok sadar bahwa ambisi standardisasi ini tidak akan mudah untuk diwujudkan. Di satu sisi, tujuan Tiongkok untuk menciptakan standar teknologi yang lebih terjangkau dan mudah diadopsi oleh negara-negara berkembang lain dapat menjadi sebuah alternatif baru di tengah sulit dan mahalnya standar yang telah ditetapkan oleh negara Barat. Apabila advokasi salah satu standar Tiongkok berhasil dipilih sebagai standar teknologi internasional berikutnya, peluang ini berpotensi untuk meningkatkan pengaruh Tiongkok secara global (Lee, 2021). Namun, di sisi lain, tantangannya adalah standar teknologi Tiongkok hanya dapat dijadikan sebagai standar internasional apabila sudah diadopsi secara luas dan mampu memberikan efisiensi bagi standar terdahulu. Hal yang dapat menjadi penghalang dalam pengaplikasian standar dari Tiongkok adalah penyebarluasannya di negara-negara Barat yang memiliki visi berbeda dari Tiongkok. Fokus dari rencana pemerintah Tiongkok adalah pada penciptaan standar untuk industri yang sedang berkembang, seperti manufaktur cerdas. Tiongkok menggambarkannya sebagai alat untuk “mempromosikan pengoptimalan dan peningkatan industri” (Farge, 2021). Fokus ini berbeda dengan industri di negara maju yang sudah modern.

Tanggapan internasional terhadap rancangan inisiatif ini sangat beragam. Kebanyakan negara yang memiliki hubungan baik dengan Tiongkok menyambut baik inisiatif ini, karena negara berkembang berpeluang untuk meningkatkan perekonomiannya melalui standar teknologi yang baru, sehingga negara tersebut tidak bergantung hanya pada sumber daya alam. Kedekatan Tiongkok dengan negara-negara berkembang di Asia Tengah dan Afrika mengindikasikan bahwa transfer teknologi di kawasan ini akan lebih mudah. Pada tahun lalu Afrika Selatan telah membuat perjanjian pemasangan 5G. Selain itu, hampir 70% infrastruktur 4G di Afrika berasal dari produsen Tiongkok (Sacks, 2021).

Tantangan bagi Tiongkok selanjutnya adalah bagaimana standar ini diaplikasikan ke negara ekonomi maju yang pada umumnya sudah memiliki standar nasional sendiri. Tiongkok juga harus menghadapi perlawanan dari Amerika Serikat yang terus-menerus menghimbau untuk mengurangi ketergantungan negara-negara lain terhadap teknologi Tiongkok dengan alasan keamanan. Menyikapi berbagai tantangan di atas, Tiongkok perlu memberikan standar yang universal dan dapat diaplikasikan di berbagai negara, tetapi tetap mempertahankan kemudahan akses dan harga yang bersaing dengan standar yang sudah ada. Hal ini perlu dilakukan untuk memudahkan penyebarluasan standar yang dimiliki Tiongkok sehingga lebih mudah mendapat pengakuan secara global. Meskipun demikian, penyebarluasan “Standard China 2035” akan tetap menemui halangan besar karena dominasi standar yang ada masih sulit untuk ditembus.

Referensi

Farge, Emma. 2021. “China extends lead over U.S. in global patents filings, U.N. says.” Reuters. https://www.reuters.com/article/us-un-patents-idUSKCN2AU0TM.

The General Office of Fujian Provincial People’s Government. 2021. “Outline of the 14th Five-Year Plan (2021-2025) for National Economic and Social Development and Vision 2035 of the People’s Republic of China_ News.” 福建省人民政府. https://www.fujian.gov.cn/english/news/202108/t20210809_5665713.htm.

Lee, Heejin. 2021. ““The Battle to Set Digital Technical Standards.” Global Asia 16 (4): 42-46.

OECD. 2022. Gross domestic spending on R&D (indicator). doi: 10.1787/d8b068b4-en (Accessed on 03 February 2022)

Sacks, David. 2021. “China’s Huawei Is Winning the 5G Race. Here’s What the United States Should Do To Respond.” Council on Foreign Relations. https://www.cfr.org/blog/china-huawei-5g.

The State Council of the People’s Republic of China. 2015. “国务院印发《中国制造2025》_滚动_新闻.” 中国政府网. http://www.gov.cn/xinwen/2015-05/19/content_2864538.htm.

The State Council of the People’s Republic of China. 2021. “中共中央国务院印发《国家标准化发展纲要》_中央有关文件.” 中国政府网. http://www.gov.cn/zhengce/2021-10/10/content_5641727.htm.

Sun, Xiaojing. 2020. “Why US Solar Tariffs Almost Worked, and Why They Don’t Now.” Greentech Media. https://www.greentechmedia.com/articles/read/why-us-solar-tariffs-almost-worked-and-why-they-dont-now.

Trivedi, Anjani. 2020. “Analysis | China Is Winning the Trillion-Dollar 5G War.” The Washington Post. https://www.washingtonpost.com/business/china-is-winning-the-trillion-dollar-5g-war/2020/07/12/876cb2f6-c493-11ea-a825-8722004e4150_story.html.

Populer